Jumat, 13 November 2015

makalah Drama



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sebagai suatu aliran sastra, drama mempunyai kekhususan dibanding dengan aliran puisi ataupun aliran prosa. Kesan dan kesadaran terhadap drama lebih difokuskan kepada bentuk karya yang bereaksi lansung secara konkret. Kekhususan drama disebabkan tujuan drama ditulis pengarangnya tidak hanya berhenti sampai pada tahap pembeberan peristiwa untuk dinikmati secara artistik imajinatif oleh para pembacanya, namun mesti diteruskan untuk kemungkinan dapat dipertontonkan dalam suatu penampilan gerak dan perilaku konkret yang dapat disaksikan. Kekhususan drama inilah yang kemudian menyebabkan pengertian drama sebagai suatu aliran sastra lebih terfokus sebagai suatu karya sastra yang lebih berorientasi pada seni pertunjukkan, dibandingkan sebagai aliran sastra.
 Kata drama sendiri berasal dari kata Yunani draomai yang berarti berbuat, berlaku, bertindak, beraksi, dan sebagainya. Jadi, drama berarti perbuatan atau tindakan. Di dalam sebuah drama juga terdapat unsur-unsur yang membangun salah satunya yaitu unsur intrinsik. Jika dibandingkan dengan fiksi, maka unsur intrinsik drama dapat dikatakan kurang sempurna karena di dalam drama tidak ditemukan adanya unsur pencerita, sebagaimana terdapat dalam fiksi. Alur di dalam drama lebih dapat ditelusuri melalui motivasi yang merupakan alasan untuk munculnya suatu peristiwa. Motivasi di dalam drama menjadi penting, karena aspek ini sudah menjadi perhatian pengarang sewaktu karya drama ditulis. Meskipun di dalam menulis pengarang dapat mempergunakan kebebasan daya cipta yang dimilikinya, ia tetap harus memikirkan kemungkinan dapat terjadinyam laku (action) di pentas. Faktor laku merupakan wujud lakon, dan motivasilah yang merupakan landasannya. Aspek inilah yang menyebabkan mengapa drama mempunyai sedikit keterbatasan dibandingkan fiksi.
Namun, walaupun drama  mempunyai sedikit keterbatasan dibandingkan fiksi, tidaklah berarti bahwa dengan hilangnya unsur pemaparan dan pembeberan, drama menjadi karya yang terbatas sama sekali. Justru pada aspek ini jugalah letak kekuatan karya drama. Membandingkan unsur intrinsik drama dengan unsur intrinsik fiksi bukan bertujuan untuk melihat kelemahan dan keunggulan masing-masing unsur, melainkan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih menyeluruh. Dalam makalah ini akan membahas hal-hal yang berkaitan dengan drama.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah pengertian dan perbedaan drama dengan teater?
2.      Apa jenis-jenis drama?
3.      Apa unsur-unsur drama?
4.      Bagaimanakah langkah mementaskan drama?
5.      Apa saja perlengkapan dalam pementasan drama?
6.      Bagaimanakah menulis drama?
C.    Tujuan
1.      Untuk memahami pengertian dan perbedaan drama dengan teater
2.      Untuk mengetahui jenis-jenis drama
3.      Untuk memahami unsur-unsur dalam drama
4.      Untuk memahami langkah dalam mementaskan drama
5.      Untuk mengetahui perlengkapan dalam pementasan drama
6.      Untuk memahami cara menulis drama













BAB II
PEMBAHASAN
A.      PENGERTIAN DAN PERBEDAAN DRAMA DENGAN TEATER
1.      Pengertian Drama
Istilah drama berasal dari bahasa yunani droomai yang berarti berbuat. Pengertian drama adalah pertunjukan cerita atau lakon kehidupan manusia yang dipentaskan. Drama ialah nimetic (peniruan), yaitu aksi yang meniru atau mewakilkan perlakuan manusia. Drama adalah karya yang ditulis dalam bentuk percakapan (dialog) yang dipertunjukkan oleh tokoh-tokoh diatas pentas. Drama digolongkan kedalam dua bagian, yaitu drama dalam bentuk tertulis dan drama yang dipentaskan. Menurut Moulton drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak (life presented in action). Menurut Ferdinand Brunetierre: drama haruslah melaahirkan kehendak dengan action.
Menurut Balthazar Vallhagen; drama adlah kesenian melukiskan sifat dan sifat manusia dengan gerak. Arti ketiga drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan action dihadapan penonton.
2.      Pengertian Teater
Ada yang mengartikan sebagai “gedung pertunjukan”, ada yang mengartikan sebagai “panggung” (stage). Secaraa etimologi (asal kata), teater adalah kisah hidup dan kehidupan manusia yang dipertunjukkan di depan orang banyak. Misalnya wayang orang, Ludruk, Lenong, Reog, Sulapan. Dalam arti sempit teater adalah kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan dalam pentas, disaksikan oleh orang banyak, dengan media, gerak, percakapan dan laku, dengan atau tanpa dekor (layar); didasarkan pada naskah yang tertulis (hasil seni sastra) dengan atau tanpa music.
3.      Perbedaan Drama Dan Teater
Teater dan drama, memiliki arti yang sama, tapi berbeda ungkapannya. Teater berasal dari kata Yunani kuno “theatron” yang secara harfiah berarti gedung/tempat pertunjukan. Dengan demikian maka kata teater selalu mengndung arti pertunjukan/tontonan. Drama juga dari kata Yunani “dran” yang berarti berbuat, berlaaku atau beracting. Drama cenderung memiliki pengertian ke seni sastra, drama setaraf dengan jenis puisi, prosa/esai. Drama berarti juga suatu kejadian atau peristiwa tentang manusia. Apalagi peristiwa atau cerita tentang manusia kemudian diangkat ke suatu pentas sebagai suatu bentuk pertunjukan maka menjadi suatu peristiwa teater. Kesimpulan teater tercipta Karena adanya drama.    
B.     JENIS-JENIS DRAMA
Adapun jenis-jenis dalam drama adalah sebagai berikut:
1.    Drama absurd, yaitu drama yang sengaja mengabaikan atau melanggar konvensi alur, penokohan dan tematik.
2.    Drama borjuis, yaitu drama yang bertema kehidupan kaum bangsawan
3.    Drama domestik, yaitu drama yang menceritakan kehidupan rakyat biasa.
4.    Drama heroik, yaitu drama yang merupakan peniruan bentuk tragedi danyang selalu bertemakan cinta dan nama baik.
5.    Drama liris, yaitu drama yang berbentuk puisi.
6.    Drama rumah tangga, yaitu drama yang menggambarkan kehidupan suatu rumah tangga yang realistis.
7.    Drama satire, yaitu drama yang berisi sindiran, umumnya bersifat komedi.
8.    Drama tari, yaitu drama yang dilakonkan dengan tarian.
9.    Drama tandens, yaitu drama yang berisi masalah sosial, seperti kepincangan-kepincangan yang terjadi dalam masyarakat.
10.                         Drama duka (tragedi), yaitu drama yang khusus menggambarkan kejahatan atau keruntuhan tokoh utama (KBBI, 2001: 275).
C.    UNSUR-UNSUR DRAMA
Adapun Unsur-unsur dalam drama yaitu :
1.    Tokoh
Tokoh adalah individu atau seseorang yang menjadi pelaku cerita. Pelaku cerita atau pemain drama disebut aktor (pria), dan aktris (wanita). Tokoh dalam cerita fiksi atau drama berkaitan dengan nama, usia, jenis kelamin, tipe fisik, jabatan dan keadaan kejiwaan. Tokoh dalam drama di klasifikasikan menjadi:
a.    Berdasarkan sifatnya, tokoh diklasifikasikan sebagai berikut :
1)   Protagonis, yaitu tokoh yang mendukung cerita. Biasanya dalam sebuah drama terdapat satu atau dua figur tokoh protagonis utama yang dibantu oleh tokoh-tokoh lainnya yang ikut terlibat sebagai pendukung cerita.
2)   Karakter antagonis, yaitu tokoh penentang cerita. Biasanya terdapat seorang tokoh utama yang menentang cerita dan beberapa figur pembantu.
3)   Karakter tritagonis, yaitu tokoh pembantu, baik untuk tokoh protagonis maupun tokoh antagonis.
b.    Karakter tokoh berdasarkan perannya dalam lakon serta fungsinya yaitu:
1)   Tokoh sentral, yaitu tokoh-tokoh yang paling menentukan gerak lakon. Tokoh sentral meliputi tokoh protagonis dan antagonis.
2)   Tokoh utama, yaitu tokoh pendukung atau menentang tokoh sentral. Tokoh utama dapat juga sebagai medium tokoh sentral atau sebagai tokoh tritagonis.
3)   Tokoh pembantu, yaitu tokoh-tokoh yang memegang peran pelengkap atau tambahan.
2.    Perwatakan atau Penokohan
Perwatakan disebut juga penokohan. Perwatakan atau penokohan adalah menggambarkan efek batin seseorang tokoh yang disajikan dalam cerita. Watak pada tokoh digambarkan dalam tiga dimensi (watak dimensional) penggambaran tiu berdasarkan keadaan fisik, biasanya dilukiskan paling awal, baru kemudian sosialnya. Pelukisan watak tokoh dapat lansung pada dialog yang mewujudkan watak dan perkembangan lakon.
a.    Keadaan fisik, keadaan fisik meliputi: umur, jenis kelamin, ciri-ciri tubuh, suku, bangsa, raut muka, suaranya dan sebagainya.
b.    Keadaan psikis, keadaan psikis meliputi: watak, kegemaran, mentalitas, moral, temperamen, ambisi, kompleks psikologis yang dialam, keadaan emosinya, dan sebagainya.
c.    Keadaan sosiologis, keadaan sosiologis tokoh meliputi: jembatan, pekerjaan, kelas sosial, ras, agama, ideologi, dan sebagainya.
3.    Setting/Latar
Setting adalah latar belakang tentang waktu kejadian atau zaman, waktu, tempat dan cara berbudaya suatu masyarakat yang diceritakan dalam sebuah drama. Dalam menentukan setting drama dapat dilakukan dengan menonton atau membaca dengan seksama dan menganalisis waktu dan tempat suatu peristriwa dalam drama terjadi.
4.    Tema
Tema merupakan gagasan pokok atau ide yang mendasari sebuah drama dan merupakan permasalahan yang ingin dipecahkan oleh pengarang melalui karya. Tema drama dapat ditentukan dengan memeperhatikan dan mengingat-ingat peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam drama. Tema dalam karya sastra drama terdiri dari masalah, pendapat dan pesan pengarang, secara lansung dan intuitif disimak oleh pembaca atau penonton. Tema sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan lagi dan menjadi kekayaan rohani pembaca dan penonton. Tema merupakan tujuan akhir yang harus diungkapkan oleh plot, karakter, maupun bahasa. Jadi tema menjadi unsur pemersatu dan pedoman bagi unsur-unsur drama lainnya.
5.    Plot/alur
Plot atau alur adalah kejadian atau peristiwa dalam drama yang disusun secara logis dan kronologis, saling terkait. Plot cerita dalam drama sebagai beriku:
a.     Permulaan (protasis/exposition) yaitu bagian yang mengantarkan atau memaparkan para tokoh, menjelaskan latar cerita, dan gambaran peristiwa yang akan terjadi.
b.    Jalinan kejadian (epitato/complication), bagian yang menggambarkan pertikaian yang dialami oleh para tokoh.
c.     Puncak laku (catastasis/klimaks), yaitu bagia yang menguraikan peristiwa-peristiwa mencapai titik kulminasi, mencapai puncak ketegangan.
d.    Ketegangan menurun, bagian yang menceritakan ketegangan berangsur-angsur menuju titik balik, menuju kesudahannya.
e.     Peleraian (resolution), yaitu bagian yang menceritakan pertentangan-pertentangan mulai mereda, seolah-olah pada kesepakatan damai di antara para tokoh.
f.     Penutupan (catastrophe/ conclusion/ penyelesaian), yaitu bagian yang menceritakan pertentangan yang dialami para tokoh sudah berakhir atau sudah terpecahkan.
6.    Amanat/pesan
Amanat adalah tujuan yang hendak dicapai pengarang. Amanat bisa berupa ajaran moral, ajakan, saran atau anjuran. Adapun amanat yang terdapat dalam drama bisa lebih dari satu. Dalam menentukan amanat utama yang terdapat dalam drama dilarang terlalau kaku, akan tetapi kit hendaknya dapat mengmbil argument-argumen lain untuk dapat mendukung suatu amanat dalam drama sebagai amanat utama.
D.    MEMENTASKAN DRAMA
1.    Memerankan Naskah Drama Dengan Lafal, Nada, Dan Mimik Yang Tepat
Untuk memahami suatu drama dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu melihat pementasan drama dan membaca naskah drama.  Di antara keduanya, membaca naskah drama memiliki tingkatan yang lebih sulit untuk memahami suatu drama. Ini dikarenakan, pada pembacaan, kita hanya memahami lewat kata-kata (kebahasaan) dan aspek ekstrinsik yang dibahasakan, seperti: situasi, emosi, dan karakter. Kita berusaha memahami kesatuan drama hanya dari aspek kata-kata (kebahasaan). Memerankan naskah drama harus memperhatikan hal-hal berikut :
a.       Pengucapan
Pengucapan mencakup tiga hal, yaitu : tekanik dinamik, tekanan tempo dan tekanan nada.
1)   Tekanan dinamik adalah tekanan keras dalam pengucapan. Kata yang dianggap penting diucapkan lebih keras daripada kata-kata lain yang kurang penting.
“Saya pergi pada jam delapan.” (bukan jam lima)
“Saya pergi pada jam delapan.” (bukannya tinggal)
2)   Tekanan nada adalah tekanan tinggi dan rendahnya nada dalam mengucapkan satu kata dalam sebuah kalimat.
“Kau sudah gila!”  (makian)
Gila! Dia bisa mengalahkan sang juara.” (pujian)
3)   Tekanan tompo adalah tekanan lambat dan cepatnya seseorang ketika mengucapkan sebuah kata dalam kalimat.
“saya muak sekali mendengar kata-katanya." (lambat untuk menggambarkan suasana sedih dan cepat untuk suasana marah)
b.      Gerak
Gerak di sini dimaksudkan sebagai gerakan anggota badan atau pernyataan perasaan dan pikiran yang dilakukan dengan gerakan jari-jari, genggaman telapak tangan, menganggap bahu, dan lain-lain.
c.       Air muka (Mimik)
Air muka adalah pernyataan perasaan atau suasana hati yang dilakukan dengan perubahan-perubahan pada air muka. Seseorang yang dalam keadaan marah, misalnya akan tampak pada raut wajahnya yang merah padam dan matanya yang melotot. Seseorang yang sedang bingung tampak pada dahinya yang berkerut-kerut dan pandangan matanya yang terfokus pada salah satu objek, tetapi hampa.
2.    Langkah-langkah memerankan naskah drama
Ada bebrapa hal yang perlu diperhatikan saat memerankan naskah drama:
a.    Setiap kata harus diucapkan atau dilapazkan dengan jelas.
Kata-kata dalam dialog drama harus diberi tekanan keras atau lembut. Kata-kata yang diucapkan dengan tekanan keras atau lembut adalah kata-kata yang dianggap penting dari kata-kata lain.
b.    Tekanan tinggi rendahnya pengucapan suatu kata dalam kalimat atau intonasi digunakan harus tepat.
c.    Tekanan cepat lambatnya pengucapan suatu kata dalam kalimat (tekanan tempo).
d.   Menunjukkan gerakan tubuh (gerak-gerik) dan ekspresi wajah (mimik) yang sesuai dengan karakter atau watak tokoh yang diperankan. Melalui mimik dan gerak tubuh pemain yang juga harus dapat menunjukkan perasaan yang sedang dialami tokoh yang diperankan, misalnya; kegembiraan, kejengkelan, kejenuhan dan kesedihan.
e.    Watak tokoh dalam drama terlihat dalam percakapan antar tokoh. Dalam percakapan itu tergambar sifat dan tingkah laku setiap tokoh. Dari kata-kata dan gerak-geriknya tergambar watak jahat, baik hati, pemarah, pendendam,dll. Jika akan memerankan drama seorang pemain harus menjiwai watak tokoh. Hal-hal yang dapat dilakukan untuk menjiwai watak tokoh dengan baik antara lain:
1)      Membaca naskah drama, khususnya pada tokoh yang akan diperankan secara berulang-ulang.
2)      Mengamati orang yang memliki watak yang mirip dengan tokoh yang hendak diperankan.
3)      Jika tidak ada pemain dapat melihat foto-foto, cerita, sejarah, atau sumber lain yang dapat mendukung karakter tokoh.
4)      Berlatih memerankan tokoh sesuai dengan karakternya.
3.    Tahapan pementasan drama
Dalam memerankan tokoh, diperlukan penghayatan isi dan jiwa cerita drama. Selain itu perlu memrhatikan petunjuk dalam naskah drama.hal ini dilakukan agar penggambaran karakter tokoh dan konflik yang timbul di dalamnya dapat dilihat. Untuk itulah, seorang pemain drama perlu memiliki kemampuan menirukan tingkah laku tokoh yang diperankan dengan wajar dan apa adanya. Untuk menirukan tokoh tentu saja melalui pengamatan tokoh dengan cermat, baik itu cara berpakaian, cara berbicara dan kebiasaan-kebiasaan lain dari tokoh yang diperankan.
Memainkan sebuah drama memerlukan pemahaman dan penghayatan drama dengan benar. Untuk itu diperhatikan petunjuk pemanggungan dan kalimat (dialog) tokoh cerita. Kalimat yang diucapkan harus sesuai dengan suasana yang dimaksud, begitu juga gerak yang dilakukannya.Membaca drama memerlukan penghayatan dan teknik vocal yang baik. Pembaca drama tidak saja perlu memahami isi naskah, tetapi juga harus menghayati dan mampu mendialogkan sesuai karakter tokoh yang dimainkan. Proses dalam pementasan drama melalui beberapa tahapan sebagai berikut:
a.        Menyusun naskah drama atau memilih naskah drama yang sudah ada.
b.      Membedah secara bersama-sama isi naskah yang akan dipentaskan. Tujuannya agar semua calon pemain memahami isi naskah yang akan dimainkan.
c.       Reading, yaitu pemain membaca keseluruhan naskah sehingga mengenal masing-masing peran.
d.      Casting, yaitu memilih peran yang sesuai dengan kemampuan akting pemain.
e.       Mendalami peran yang dimainkan dengan pengamatan di lapangan.
f.       Blocking, yaitu latihan secara lengkap mulai dari dialog sampai pengaturan pentas.
g.      Gladiresik, yaitu latihan terakhir sebelum pentas.
h.      Pementasan, pemain siap dengan kostum dan dekorasi panggung yang sudah lengkap.
E.     PERLENGKAPAN DALAM PEMENTASAN DRAMA
Perlengkapan-perlengkapan dalam pementasan drama meliputi perlengkapan untuk aktor/aktris dan perlengkapan panggung. Diantaranya sbb:
1.      Perlengkapan untuk Aktor/Aktris
Perlengkapan untuk aktor/aktris adalah sebagai berikut.
a)      Tata Rias
Tata rias menggunakan bahan kosmetik.tujuan panggunaan tata rias adalah untuk menciptakan wajah peran sesuai dengan tuntutan lakon. Fungsinya, mengubah watak seseorang, baik dari segi fisik, psikis,maupun sosial serta memberikan tekanan dalam perannya. Tata rias sangat mendukung karakter yang diperankan.
b)      Tata Pakaian
Tata pakaian juga memiliki fungsi sama dengan tata rias, yaitu membantu aktor membawakan perannya sesuai dengan tuntutan lakon. Tata pakaian dalam pementasan drama bertujuan sebagai berikut.
1)   Membantu mengidentifikasi periode saat lakon dilaksanakan
2)   Membantu mengindividualisasikan pemain
3)   Menunjukkan asal-usul dan status sosial tokoh yang diperankan
4)   Menunjukkan waktu peristiwa itu terjadi
5)   Mengekspresikan usia orang itu
6)   Mengekspresikan gaya permainan
7)   Membantu gerak-gerik aktor di pentas serta membantu aktor mengekspresikan.
2.      Perlengkapan Panggung
Perlengkapan panggung meliputi hal-hal berikut.
a.    Tata lampu
Tujuan penggunaan tata lampu sebagai berikut.
1)   Sebagai penerangan di panggung dan terhadap aktor.
2)   Memberikan efek alamiah dari waktu, seperti: jam, musim, cuaca, dan suasana.
3)   Membantu melukis dekor sehingga terdapat efek sinar dan bayangan.
4)   Melambangkan maksud dengan memperkuat kejiwaannya.
5)   Mendukung pengungkapan gaya dan tema lakon.
6)   Memberikan variasi-variasi
b.    Tata Pentas dan Dekorasi
Tata pentas berkaitan dengan bentuk dan konstruksipentas dari berbagai kurun waktu.
c.    Ilustrasi musik/tata suara
Ilustrasi musik sangat mendukung suasana. Di panggung dipasang pengeras suara dengan microphone yang cukup memadai sehingga dialog dalam drama dapat terdengar.
F.     MENULIS DRAMA
Naskah drama adalah karangan yang berisi cerita, dialog yang diucapkan para tokoh dan keadaan panggung yang diperlukan juga sikap pelaku saat pentas. Naskah drama ditulis dengan selengkap-lengkapnya, bukan saja berisi keterangan atau petunjuk. Selain itu, naskah drama merupakan jalinan cerita (plot) drama, plot merupakan kerangka cerita dari awal hingga akhir. Yang merupakan jalinan konflik antara dua tokoh yang berlawanan. Selain itu, naskah drama juga memasukan unsur intrinsik drama, naskah drama disampaikan dengan kalimat langsung dan diberi informasi mengenai latar, ekspresi, dan keterangan bagi pelaku.
Terkait dengan bahasa drama, berikut ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :
1.      Kalimat yang digunakan harus komunikatif dan efektif.
2.      Dialog harus ditulis dengan ragam bahasa yang tepat sesuai dengan siapa yang berbiacara, tepat pembicaraan itu berlangsung dan masalah yang dibicarakan.
3.      Harus dibedakan dengan hjelas antara prolog, epilog, dialog, dan monolog.
4.       Prolog adalah kata pendahuluan dalam lakon drama.
5.       Epilog adalah kata penutup yang mengakhiri pementasan.
6.      Dialog adalah percakapan para pemain
7.      Monolog adalah percakapan seseorang pemain dengan dirinya sendiri
Apa yang diucapkan itu tidak ditunjukkan kepada orang lain. Selain hal di atas, kalian juga perlu memperhatikan petunjuk teknis pementasan drama. Petunjuk teknis ini berisi keterangan gerak pelaku, ekspresi pelaku, nada pengucapan dialog, ataupun keterangan keadaan panggung. Adapun Langkah-langkah menulis naskah drama diantaranya adalah :
1.      Melihat gambar / perisitiwa yang menyentuh perasaan, atau menggali sesuatu dalam diri dan lingkungan sekitar.
2.      Membayangkan peristiwa yang dapat terjadi melalui gambaran itu
3.      Membuat rangkaian cerita
4.      Memilih peristiwa yang dapat digambarkan dalam naskah
5.      Menulis dialog sehingga membentuk naskah drama
6.      Memberi nama tokoh / pelaku dalam setiap dialog
7.      Menambahkan narasi, berupa latar suasana, dan lakuan tokoh





















BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Drama adalah pertunjukan cerita atau lakon kehidupan manusia yang dipentaskan,. jenis-jenis drama adalah : 1). drama absurd, 2) drama borjuis , 3) drama domestik, 4) drama heroik 5) drama liris. 6) drama rumah tangga, 7) drama satire, 8) drama tari, 9) drama tandens, 10) drama duka. adapun selain itu hal yang penting untuk diketahui dalam drama yaitu unsure-unsurnya yaitu : tokoh, perwatakan atau penokohan,setting/latar, tema, plot/alur, dan amanat/pesan.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pementasan drama yaitu  bagaimana seharusnya memerankan drama dengan lafal, nada, dan mimik yang tepat, langkah-langkah dalam memerankan naskah drama, dan tahapan-tahapan dalam pementasan drama. selain itu, dalam drama juga membutuhkan perlengkapan-perlengkapan lain yang sangat berperan penting dalam kesuksesan sebuah pementasan drama, meliputi : perlengkapan untuk actor/aktris, dan perlengkapan panggung.
Naskah drama adalah karangan yang berisi cerita, dialog yang diucapkan para tokoh dan keadaan panggung yang diperlukan juga sikap pelaku saat pentas. oleh karena itu pementasan tak akan berjalan jika naskah drama tidk ada, atau ada tetapi tidak terlalu sempurna oleh karena itu, harus memperhatikan langkah-langkah dalm menuliskan drama, yaitu : melihat gambar / perisitiwa yang menyentuh perasaan, atau menggali sesuatu dalam diri dan lingkungan sekitar. 2)membayangkan peristiwa yang dapat terjadi melalui gambaran itu 3) membuat rangkaian cerita  4) memilih peristiwa yang dapat digambarkan dalam naskah 5) menulis dialog sehingga membentuk naskah drama 6) memberi nama tokoh / pelaku dalam setiap dialog dan menambahkan narasi, berupa latar suasana, dan lakuan tokoh.
A.    SARAN
Dalam sebuah pementasan drama haruslah kita mengenal drama itu sendiri, hal-hal yang berkaitan dengan drama supaya kita benar-benar dapat menyuguhkan pementasan drama yang sebenar-benarnya sebuah drama yang layak untuk ditonton dan dapat bermanfaat untuk para pemeran atau semua yang terlibat dalam pementasan drama itu sendiri serta dapat bermanfaat dan memuaskan  penonton.
Memperhatikan setia aspek yang ada, hal-hal kecil jangan pernah disepelekan, yang nantinya dalam sebuah drama akan membuat pementasan yang kita rencanakan  nantinya menjadi sempurna dan terkenang oleh penonton,oleh karena itu dibutuhkan kesiapan yang matang dalam semua aspek pementasan. 
 






























DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Chairul dkk. 2001. Cara Menulis Kreatif. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Tukan, P. 2007. Mahir Berbahasa Indoesia SMA Kelas XI Program IPA dan IPS. Jakarta : Yudhistira
Budi S, Gunawan dkk. 2009. Terampil Berbahasa Indonesia 2 Program IPA dan IPS. Jakarta : Pusat Pembukuan, Departemen Pendidikan Nasional
Rohmadi, Muhammad dan Yuli Kusumawati.2008 Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA/MA Kelas XII (Program IPA/IPS). Jakarta : Pusat Pembukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
Wiyanto, Asul. 2005. Kesusastraan Sekolah Penunjang Pembelajaran Bahasa Indonesia SMP dan SMA. Jakarta : PT Grasindo
Sumardjo, Jakob. 2004. Kesusastraan Melayu-Rendah Masa Awal. Yogyakarta : Galang Press  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar