BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Sebagai suatu aliran sastra,
drama mempunyai kekhususan dibanding dengan aliran puisi ataupun aliran prosa.
Kesan dan kesadaran terhadap drama lebih difokuskan kepada bentuk karya yang
bereaksi lansung secara konkret. Kekhususan drama disebabkan tujuan drama
ditulis pengarangnya tidak hanya berhenti sampai pada tahap pembeberan
peristiwa untuk dinikmati secara artistik imajinatif oleh para pembacanya,
namun mesti diteruskan untuk kemungkinan dapat dipertontonkan dalam suatu
penampilan gerak dan perilaku konkret yang dapat disaksikan. Kekhususan drama
inilah yang kemudian menyebabkan pengertian drama sebagai suatu aliran sastra
lebih terfokus sebagai suatu karya sastra yang lebih berorientasi pada seni
pertunjukkan, dibandingkan sebagai aliran sastra.
Kata drama sendiri berasal dari kata Yunani draomai yang berarti berbuat, berlaku,
bertindak, beraksi, dan sebagainya. Jadi, drama berarti perbuatan atau
tindakan. Di dalam sebuah drama juga terdapat unsur-unsur yang membangun salah
satunya yaitu unsur intrinsik. Jika dibandingkan dengan fiksi, maka unsur
intrinsik drama dapat dikatakan kurang sempurna karena di dalam drama tidak
ditemukan adanya unsur pencerita, sebagaimana terdapat dalam fiksi. Alur di
dalam drama lebih dapat ditelusuri melalui motivasi yang merupakan alasan untuk
munculnya suatu peristiwa. Motivasi di dalam drama menjadi penting, karena
aspek ini sudah menjadi perhatian pengarang sewaktu karya drama ditulis.
Meskipun di dalam menulis pengarang dapat mempergunakan kebebasan daya cipta
yang dimilikinya, ia tetap harus memikirkan kemungkinan dapat terjadinyam laku (action) di pentas. Faktor laku merupakan wujud lakon, dan
motivasilah yang merupakan landasannya. Aspek inilah yang menyebabkan mengapa
drama mempunyai sedikit keterbatasan dibandingkan fiksi.
Namun, walaupun drama mempunyai sedikit keterbatasan dibandingkan
fiksi, tidaklah berarti bahwa dengan hilangnya unsur pemaparan dan pembeberan,
drama menjadi karya yang terbatas sama sekali. Justru pada aspek ini jugalah
letak kekuatan karya drama. Membandingkan unsur intrinsik drama dengan unsur
intrinsik fiksi bukan bertujuan untuk melihat kelemahan dan keunggulan
masing-masing unsur, melainkan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih
menyeluruh. Dalam makalah ini akan membahas hal-hal yang
berkaitan dengan drama.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apakah pengertian dan perbedaan drama
dengan teater?
2.
Apa jenis-jenis drama?
3.
Apa unsur-unsur drama?
4.
Bagaimanakah langkah mementaskan drama?
5.
Apa saja perlengkapan dalam pementasan drama?
6.
Bagaimanakah menulis drama?
C.
Tujuan
1.
Untuk memahami pengertian dan perbedaan drama dengan teater
2.
Untuk mengetahui jenis-jenis drama
3.
Untuk memahami unsur-unsur dalam drama
4.
Untuk memahami langkah dalam mementaskan drama
5.
Untuk mengetahui perlengkapan dalam pementasan drama
6.
Untuk memahami cara menulis drama
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
DAN PERBEDAAN DRAMA DENGAN TEATER
1. Pengertian Drama
Istilah drama berasal dari bahasa yunani droomai yang berarti berbuat. Pengertian
drama adalah pertunjukan cerita atau lakon kehidupan manusia yang dipentaskan.
Drama ialah nimetic (peniruan), yaitu aksi yang meniru atau mewakilkan
perlakuan manusia. Drama adalah karya yang ditulis dalam bentuk percakapan (dialog) yang
dipertunjukkan oleh tokoh-tokoh diatas pentas. Drama digolongkan kedalam dua
bagian, yaitu drama dalam bentuk tertulis dan drama yang dipentaskan. Menurut Moulton drama adalah hidup yang
dilukiskan dengan gerak (life presented
in action). Menurut Ferdinand Brunetierre: drama haruslah melaahirkan
kehendak dengan action.
Menurut Balthazar
Vallhagen; drama adlah kesenian melukiskan sifat dan sifat manusia dengan
gerak. Arti ketiga drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog yang
diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan action dihadapan
penonton.
2.
Pengertian
Teater
Ada yang mengartikan
sebagai “gedung pertunjukan”, ada yang mengartikan sebagai “panggung” (stage).
Secaraa etimologi (asal kata), teater adalah kisah hidup dan kehidupan manusia
yang dipertunjukkan di depan orang banyak. Misalnya wayang orang, Ludruk,
Lenong, Reog, Sulapan. Dalam arti sempit teater adalah kisah hidup dan
kehidupan manusia yang diceritakan dalam pentas, disaksikan oleh orang banyak,
dengan media, gerak, percakapan dan laku, dengan atau tanpa dekor (layar);
didasarkan pada naskah yang tertulis (hasil seni sastra) dengan atau tanpa
music.
3.
Perbedaan Drama
Dan Teater
Teater dan drama,
memiliki arti yang sama, tapi berbeda ungkapannya. Teater berasal dari kata
Yunani kuno “theatron” yang secara harfiah berarti gedung/tempat pertunjukan.
Dengan demikian maka kata teater selalu mengndung arti pertunjukan/tontonan.
Drama juga dari kata Yunani “dran” yang berarti berbuat, berlaaku atau
beracting. Drama cenderung memiliki pengertian ke seni sastra, drama setaraf
dengan jenis puisi, prosa/esai. Drama berarti juga suatu kejadian atau
peristiwa tentang manusia. Apalagi peristiwa atau cerita tentang manusia
kemudian diangkat ke suatu pentas sebagai suatu bentuk pertunjukan maka menjadi
suatu peristiwa teater. Kesimpulan teater tercipta Karena adanya drama.
B.
JENIS-JENIS DRAMA
Adapun
jenis-jenis dalam drama adalah sebagai berikut:
1.
Drama absurd, yaitu drama yang
sengaja mengabaikan atau melanggar konvensi alur, penokohan dan tematik.
2.
Drama borjuis, yaitu drama yang
bertema kehidupan kaum bangsawan
3.
Drama domestik, yaitu drama yang
menceritakan kehidupan rakyat biasa.
4.
Drama heroik, yaitu drama yang
merupakan peniruan bentuk tragedi danyang selalu bertemakan cinta dan nama
baik.
5.
Drama liris, yaitu drama yang
berbentuk puisi.
6.
Drama rumah tangga, yaitu drama
yang menggambarkan kehidupan suatu rumah tangga yang realistis.
7.
Drama satire, yaitu drama yang
berisi sindiran, umumnya bersifat komedi.
8.
Drama tari, yaitu drama yang
dilakonkan dengan tarian.
9.
Drama tandens, yaitu drama yang
berisi masalah sosial, seperti kepincangan-kepincangan yang terjadi dalam
masyarakat.
10.
Drama duka (tragedi), yaitu drama yang khusus
menggambarkan kejahatan atau keruntuhan tokoh utama (KBBI, 2001: 275).
C.
UNSUR-UNSUR DRAMA
Adapun
Unsur-unsur dalam drama yaitu :
1.
Tokoh
Tokoh adalah individu
atau seseorang yang menjadi pelaku cerita. Pelaku cerita atau pemain drama
disebut aktor (pria), dan aktris (wanita). Tokoh dalam cerita fiksi atau drama
berkaitan dengan nama, usia, jenis kelamin, tipe fisik, jabatan dan keadaan
kejiwaan. Tokoh dalam drama di klasifikasikan menjadi:
a.
Berdasarkan sifatnya, tokoh
diklasifikasikan sebagai berikut :
1)
Protagonis, yaitu tokoh yang
mendukung cerita. Biasanya dalam sebuah drama terdapat satu atau dua figur
tokoh protagonis utama yang dibantu oleh tokoh-tokoh lainnya yang ikut terlibat
sebagai pendukung cerita.
2)
Karakter antagonis, yaitu tokoh
penentang cerita. Biasanya terdapat seorang tokoh utama yang menentang cerita
dan beberapa figur pembantu.
3)
Karakter tritagonis, yaitu tokoh
pembantu, baik untuk tokoh protagonis maupun tokoh antagonis.
b.
Karakter tokoh berdasarkan
perannya dalam lakon serta fungsinya yaitu:
1)
Tokoh sentral, yaitu tokoh-tokoh
yang paling menentukan gerak lakon. Tokoh sentral meliputi tokoh protagonis dan
antagonis.
2)
Tokoh utama, yaitu tokoh pendukung
atau menentang tokoh sentral. Tokoh utama dapat juga sebagai medium tokoh
sentral atau sebagai tokoh tritagonis.
3)
Tokoh pembantu, yaitu tokoh-tokoh
yang memegang peran pelengkap atau tambahan.
2.
Perwatakan atau Penokohan
Perwatakan
disebut juga penokohan. Perwatakan atau penokohan adalah menggambarkan efek
batin seseorang tokoh yang disajikan dalam cerita. Watak pada tokoh digambarkan
dalam tiga dimensi (watak dimensional) penggambaran tiu berdasarkan keadaan
fisik, biasanya dilukiskan paling awal, baru kemudian sosialnya. Pelukisan
watak tokoh dapat lansung pada dialog yang mewujudkan watak dan perkembangan
lakon.
a.
Keadaan fisik, keadaan fisik meliputi:
umur, jenis kelamin, ciri-ciri tubuh, suku, bangsa, raut muka, suaranya dan
sebagainya.
b.
Keadaan psikis, keadaan psikis
meliputi: watak, kegemaran, mentalitas, moral, temperamen, ambisi, kompleks
psikologis yang dialam, keadaan emosinya, dan sebagainya.
c.
Keadaan sosiologis, keadaan
sosiologis tokoh meliputi: jembatan, pekerjaan, kelas sosial, ras, agama,
ideologi, dan sebagainya.
3.
Setting/Latar
Setting adalah
latar belakang tentang waktu kejadian atau zaman, waktu, tempat dan cara
berbudaya suatu masyarakat yang diceritakan dalam sebuah drama. Dalam
menentukan setting drama dapat dilakukan dengan menonton atau membaca dengan
seksama dan menganalisis waktu dan tempat suatu peristriwa dalam drama terjadi.
4.
Tema
Tema merupakan
gagasan pokok atau ide yang mendasari sebuah drama dan merupakan permasalahan
yang ingin dipecahkan oleh pengarang melalui karya. Tema drama dapat ditentukan
dengan memeperhatikan dan mengingat-ingat peristiwa-peristiwa yang terjadi
dalam drama. Tema dalam karya sastra drama terdiri dari masalah, pendapat dan
pesan pengarang, secara lansung dan intuitif disimak oleh pembaca atau
penonton. Tema sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan lagi dan
menjadi kekayaan rohani pembaca dan penonton. Tema merupakan tujuan akhir yang
harus diungkapkan oleh plot, karakter, maupun bahasa. Jadi tema menjadi unsur
pemersatu dan pedoman bagi unsur-unsur drama lainnya.
5.
Plot/alur
Plot atau alur
adalah kejadian atau peristiwa dalam drama yang disusun secara logis dan
kronologis, saling terkait. Plot cerita dalam drama sebagai beriku:
a.
Permulaan (protasis/exposition)
yaitu bagian yang mengantarkan atau memaparkan para tokoh, menjelaskan latar
cerita, dan gambaran peristiwa yang akan terjadi.
b.
Jalinan kejadian
(epitato/complication), bagian yang menggambarkan pertikaian yang dialami oleh
para tokoh.
c.
Puncak laku (catastasis/klimaks),
yaitu bagia yang menguraikan peristiwa-peristiwa mencapai titik kulminasi,
mencapai puncak ketegangan.
d.
Ketegangan menurun, bagian yang
menceritakan ketegangan berangsur-angsur menuju titik balik, menuju
kesudahannya.
e.
Peleraian (resolution), yaitu
bagian yang menceritakan pertentangan-pertentangan mulai mereda, seolah-olah
pada kesepakatan damai di antara para tokoh.
f.
Penutupan (catastrophe/
conclusion/ penyelesaian), yaitu bagian yang menceritakan pertentangan yang
dialami para tokoh sudah berakhir atau sudah terpecahkan.
6.
Amanat/pesan
Amanat adalah
tujuan yang hendak dicapai pengarang. Amanat bisa berupa ajaran moral, ajakan,
saran atau anjuran. Adapun amanat yang terdapat dalam drama bisa lebih dari
satu. Dalam menentukan amanat
utama yang terdapat dalam drama dilarang terlalau kaku, akan tetapi kit
hendaknya dapat mengmbil argument-argumen lain untuk dapat mendukung suatu
amanat dalam drama sebagai amanat utama.
D.
MEMENTASKAN DRAMA
1.
Memerankan Naskah Drama Dengan
Lafal, Nada, Dan Mimik Yang Tepat
Untuk memahami
suatu drama dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu melihat pementasan drama dan
membaca naskah drama. Di antara
keduanya, membaca naskah drama memiliki tingkatan yang lebih sulit untuk
memahami suatu drama. Ini dikarenakan, pada pembacaan, kita hanya memahami
lewat kata-kata (kebahasaan) dan aspek ekstrinsik yang dibahasakan, seperti:
situasi, emosi, dan karakter. Kita berusaha memahami kesatuan drama hanya dari
aspek kata-kata (kebahasaan). Memerankan naskah drama harus memperhatikan
hal-hal berikut :
a.
Pengucapan
Pengucapan mencakup tiga hal, yaitu : tekanik dinamik, tekanan tempo
dan tekanan nada.
1)
Tekanan dinamik adalah tekanan
keras dalam pengucapan. Kata yang dianggap penting diucapkan lebih keras
daripada kata-kata lain yang kurang penting.
“Saya pergi pada jam delapan.” (bukan jam lima)
“Saya pergi pada jam delapan.” (bukannya
tinggal)
2)
Tekanan nada adalah tekanan tinggi
dan rendahnya nada dalam mengucapkan satu kata dalam sebuah kalimat.
“Kau sudah gila!”
(makian)
“Gila! Dia bisa mengalahkan sang juara.” (pujian)
3)
Tekanan tompo adalah tekanan
lambat dan cepatnya seseorang ketika mengucapkan sebuah kata dalam kalimat.
“saya muak sekali mendengar
kata-katanya." (lambat untuk menggambarkan suasana sedih dan cepat untuk
suasana marah)
b.
Gerak
Gerak di sini dimaksudkan sebagai gerakan anggota badan atau pernyataan
perasaan dan pikiran yang dilakukan dengan gerakan jari-jari, genggaman telapak
tangan, menganggap bahu, dan lain-lain.
c.
Air muka (Mimik)
Air muka adalah pernyataan perasaan atau suasana hati yang dilakukan
dengan perubahan-perubahan pada air muka. Seseorang yang dalam keadaan marah, misalnya
akan tampak pada raut wajahnya yang merah padam dan matanya yang melotot.
Seseorang yang sedang bingung tampak pada dahinya yang berkerut-kerut dan
pandangan matanya yang terfokus pada salah satu objek, tetapi hampa.
2.
Langkah-langkah memerankan naskah
drama
Ada bebrapa hal yang
perlu diperhatikan saat memerankan naskah drama:
a.
Setiap kata harus diucapkan atau
dilapazkan dengan jelas.
Kata-kata dalam dialog
drama harus diberi tekanan keras atau lembut. Kata-kata yang diucapkan dengan
tekanan keras atau lembut adalah kata-kata yang dianggap penting dari kata-kata
lain.
b.
Tekanan tinggi rendahnya
pengucapan suatu kata dalam kalimat atau intonasi digunakan harus tepat.
c.
Tekanan cepat lambatnya pengucapan
suatu kata dalam kalimat (tekanan tempo).
d.
Menunjukkan gerakan tubuh
(gerak-gerik) dan ekspresi wajah (mimik) yang sesuai dengan karakter atau watak
tokoh yang diperankan. Melalui mimik dan gerak tubuh pemain yang juga harus
dapat menunjukkan perasaan yang sedang dialami tokoh yang diperankan, misalnya;
kegembiraan, kejengkelan, kejenuhan dan kesedihan.
e.
Watak tokoh dalam drama terlihat
dalam percakapan antar tokoh. Dalam percakapan itu tergambar sifat dan tingkah
laku setiap tokoh. Dari kata-kata dan gerak-geriknya tergambar watak jahat,
baik hati, pemarah, pendendam,dll. Jika akan memerankan drama seorang pemain harus
menjiwai watak tokoh. Hal-hal yang dapat dilakukan untuk menjiwai watak tokoh
dengan baik antara lain:
1)
Membaca naskah drama, khususnya
pada tokoh yang akan diperankan secara berulang-ulang.
2)
Mengamati orang yang memliki watak
yang mirip dengan tokoh yang hendak diperankan.
3)
Jika tidak ada pemain dapat
melihat foto-foto, cerita, sejarah, atau sumber lain yang dapat mendukung
karakter tokoh.
4)
Berlatih memerankan tokoh sesuai
dengan karakternya.
3.
Tahapan pementasan drama
Dalam memerankan tokoh, diperlukan penghayatan isi dan jiwa cerita
drama. Selain itu perlu memrhatikan petunjuk dalam naskah drama.hal ini
dilakukan agar penggambaran karakter tokoh dan konflik yang timbul di dalamnya
dapat dilihat. Untuk itulah, seorang pemain drama perlu memiliki kemampuan
menirukan tingkah laku tokoh yang diperankan dengan wajar dan apa adanya. Untuk
menirukan tokoh tentu saja melalui pengamatan tokoh dengan cermat, baik itu
cara berpakaian, cara berbicara dan kebiasaan-kebiasaan lain dari tokoh yang
diperankan.
Memainkan
sebuah drama memerlukan pemahaman dan penghayatan drama dengan benar. Untuk itu
diperhatikan petunjuk pemanggungan dan kalimat (dialog) tokoh cerita. Kalimat
yang diucapkan harus sesuai dengan suasana yang dimaksud, begitu juga gerak
yang dilakukannya.Membaca drama memerlukan penghayatan dan teknik vocal yang
baik. Pembaca drama tidak saja perlu memahami isi naskah, tetapi juga harus
menghayati dan mampu mendialogkan sesuai karakter tokoh yang dimainkan. Proses
dalam pementasan drama melalui beberapa tahapan sebagai berikut:
a.
Menyusun naskah drama
atau memilih naskah drama yang sudah ada.
b.
Membedah secara bersama-sama isi naskah yang akan
dipentaskan. Tujuannya agar semua calon pemain memahami isi naskah yang akan
dimainkan.
c.
Reading, yaitu pemain membaca keseluruhan naskah sehingga
mengenal masing-masing peran.
d.
Casting, yaitu memilih peran yang sesuai dengan kemampuan
akting pemain.
e.
Mendalami peran yang dimainkan dengan pengamatan di
lapangan.
f.
Blocking, yaitu latihan secara lengkap mulai dari dialog
sampai pengaturan pentas.
g.
Gladiresik, yaitu latihan terakhir sebelum pentas.
h.
Pementasan, pemain siap dengan kostum dan dekorasi panggung
yang sudah lengkap.
E.
PERLENGKAPAN DALAM PEMENTASAN DRAMA
Perlengkapan-perlengkapan
dalam pementasan drama meliputi perlengkapan untuk aktor/aktris dan
perlengkapan panggung. Diantaranya sbb:
1. Perlengkapan untuk Aktor/Aktris
Perlengkapan untuk aktor/aktris adalah sebagai berikut.
a)
Tata Rias
Tata rias menggunakan
bahan kosmetik.tujuan panggunaan tata rias adalah untuk menciptakan wajah peran
sesuai dengan tuntutan lakon. Fungsinya, mengubah watak seseorang, baik dari
segi fisik, psikis,maupun sosial serta memberikan tekanan dalam perannya. Tata
rias sangat mendukung karakter yang diperankan.
b)
Tata Pakaian
Tata pakaian juga
memiliki fungsi sama dengan tata rias, yaitu membantu aktor membawakan perannya
sesuai dengan tuntutan lakon. Tata pakaian dalam pementasan drama bertujuan
sebagai berikut.
1)
Membantu mengidentifikasi periode
saat lakon dilaksanakan
2)
Membantu mengindividualisasikan
pemain
3)
Menunjukkan asal-usul dan status
sosial tokoh yang diperankan
4)
Menunjukkan waktu peristiwa itu
terjadi
5)
Mengekspresikan usia orang itu
6)
Mengekspresikan gaya permainan
7)
Membantu gerak-gerik aktor di pentas
serta membantu aktor mengekspresikan.
2. Perlengkapan Panggung
Perlengkapan panggung meliputi hal-hal berikut.
a.
Tata lampu
Tujuan penggunaan tata
lampu sebagai berikut.
1)
Sebagai penerangan di panggung dan
terhadap aktor.
2)
Memberikan efek alamiah dari waktu,
seperti: jam, musim, cuaca, dan suasana.
3)
Membantu melukis dekor sehingga
terdapat efek sinar dan bayangan.
4)
Melambangkan maksud dengan
memperkuat kejiwaannya.
5)
Mendukung pengungkapan gaya dan
tema lakon.
6)
Memberikan variasi-variasi
b.
Tata Pentas dan Dekorasi
Tata pentas berkaitan
dengan bentuk dan konstruksipentas dari berbagai kurun waktu.
c.
Ilustrasi musik/tata suara
Ilustrasi musik sangat
mendukung suasana. Di panggung dipasang pengeras suara dengan microphone yang
cukup memadai sehingga dialog dalam drama dapat terdengar.
F.
MENULIS DRAMA
Naskah
drama adalah karangan yang berisi cerita, dialog yang diucapkan para tokoh dan
keadaan panggung yang diperlukan juga sikap pelaku saat pentas. Naskah drama
ditulis dengan selengkap-lengkapnya, bukan saja berisi keterangan atau
petunjuk. Selain itu, naskah drama merupakan jalinan cerita (plot) drama, plot
merupakan kerangka cerita dari awal hingga akhir. Yang merupakan jalinan
konflik antara dua tokoh yang berlawanan. Selain itu, naskah drama juga
memasukan unsur intrinsik drama, naskah drama disampaikan dengan kalimat
langsung dan diberi informasi mengenai latar, ekspresi, dan keterangan bagi
pelaku.
Terkait dengan bahasa drama,
berikut ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :
1.
Kalimat yang digunakan harus komunikatif dan efektif.
2.
Dialog harus ditulis dengan ragam bahasa yang tepat sesuai
dengan siapa yang berbiacara, tepat pembicaraan itu berlangsung dan masalah
yang dibicarakan.
3.
Harus dibedakan dengan hjelas antara prolog, epilog, dialog,
dan monolog.
4.
Prolog adalah kata
pendahuluan dalam lakon drama.
5.
Epilog adalah kata
penutup yang mengakhiri pementasan.
6.
Dialog adalah percakapan para pemain
7.
Monolog adalah percakapan seseorang pemain dengan dirinya
sendiri
Apa yang diucapkan itu tidak
ditunjukkan kepada orang lain. Selain hal di atas, kalian juga perlu
memperhatikan petunjuk teknis pementasan drama. Petunjuk teknis ini berisi
keterangan gerak pelaku, ekspresi pelaku, nada pengucapan dialog, ataupun
keterangan keadaan panggung. Adapun Langkah-langkah
menulis naskah drama diantaranya adalah :
1.
Melihat gambar / perisitiwa yang menyentuh perasaan, atau
menggali sesuatu dalam diri dan lingkungan sekitar.
2.
Membayangkan peristiwa yang dapat terjadi melalui gambaran
itu
3.
Membuat rangkaian cerita
4.
Memilih peristiwa yang dapat digambarkan dalam naskah
5.
Menulis dialog sehingga membentuk naskah drama
6.
Memberi nama tokoh / pelaku dalam setiap dialog
7.
Menambahkan narasi, berupa latar suasana, dan lakuan tokoh
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Drama
adalah pertunjukan cerita atau lakon kehidupan manusia yang dipentaskan,.
jenis-jenis drama adalah : 1). drama absurd, 2) drama borjuis , 3) drama
domestik, 4) drama heroik 5) drama liris. 6) drama rumah tangga, 7) drama
satire, 8) drama tari, 9) drama tandens, 10) drama duka. adapun selain itu hal
yang penting untuk diketahui dalam drama yaitu unsure-unsurnya yaitu : tokoh,
perwatakan atau penokohan,setting/latar, tema, plot/alur, dan amanat/pesan.
Hal-hal
yang harus diperhatikan dalam pementasan drama yaitu bagaimana seharusnya memerankan drama dengan
lafal, nada, dan mimik yang tepat, langkah-langkah dalam memerankan naskah
drama, dan tahapan-tahapan dalam pementasan drama. selain itu, dalam drama juga
membutuhkan perlengkapan-perlengkapan lain yang sangat berperan penting dalam
kesuksesan sebuah pementasan drama, meliputi : perlengkapan untuk actor/aktris,
dan perlengkapan panggung.
Naskah drama adalah karangan yang berisi cerita, dialog yang
diucapkan para tokoh dan keadaan panggung yang diperlukan juga sikap pelaku
saat pentas. oleh karena itu pementasan tak akan berjalan jika naskah drama
tidk ada, atau ada tetapi tidak terlalu sempurna oleh karena itu, harus
memperhatikan langkah-langkah dalm menuliskan drama, yaitu : melihat gambar /
perisitiwa yang menyentuh perasaan, atau menggali sesuatu dalam diri dan
lingkungan sekitar. 2)membayangkan peristiwa yang dapat terjadi melalui
gambaran itu 3) membuat rangkaian cerita
4) memilih peristiwa yang dapat digambarkan dalam naskah 5) menulis
dialog sehingga membentuk naskah drama 6) memberi nama tokoh / pelaku dalam
setiap dialog dan menambahkan narasi, berupa latar suasana, dan lakuan tokoh.
A.
SARAN
Dalam sebuah pementasan drama haruslah kita mengenal
drama itu sendiri, hal-hal yang berkaitan dengan drama supaya kita benar-benar
dapat menyuguhkan pementasan drama yang sebenar-benarnya sebuah drama yang
layak untuk ditonton dan dapat bermanfaat untuk para pemeran atau semua yang
terlibat dalam pementasan drama itu sendiri serta dapat bermanfaat dan
memuaskan penonton.
Memperhatikan setia aspek yang ada, hal-hal kecil
jangan pernah disepelekan, yang nantinya dalam sebuah drama akan membuat
pementasan yang kita rencanakan nantinya
menjadi sempurna dan terkenang oleh penonton,oleh karena itu dibutuhkan
kesiapan yang matang dalam semua aspek pementasan.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Chairul dkk. 2001. Cara Menulis Kreatif. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Tukan, P. 2007. Mahir
Berbahasa Indoesia SMA Kelas XI Program IPA dan IPS. Jakarta : Yudhistira
Budi S, Gunawan dkk. 2009. Terampil Berbahasa Indonesia 2 Program IPA dan IPS. Jakarta :
Pusat Pembukuan, Departemen Pendidikan Nasional
Rohmadi, Muhammad dan Yuli Kusumawati.2008 Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA/MA Kelas
XII (Program IPA/IPS). Jakarta : Pusat Pembukuan, Departemen Pendidikan
Nasional.
Wiyanto, Asul. 2005. Kesusastraan Sekolah Penunjang Pembelajaran Bahasa Indonesia SMP dan
SMA. Jakarta : PT Grasindo
Sumardjo, Jakob. 2004. Kesusastraan Melayu-Rendah Masa Awal. Yogyakarta : Galang Press
Tidak ada komentar:
Posting Komentar